Pernah terpikir, bahwa sebenarnya dari semua benda mati yang kita lihat diam bergeming itu ternyata merupakan kumpulan atom yang justru sibuk setengah mati bergerak?
![]() |
| Ilustrasi : Ezra Saraswati |
Hmmm,...terlalu fisika, ya? Coba kita lihat tata surya...Galaksi Bimasakti, the Milky Way, kata yang sebelah "sono". Bagaimana bisa susunan planet-planet itu (termasuk planet kita bernama bumi) tidak "jatuh" atau melayang ngawur dengan segala risikonya? Jawabannya ternyata sama: Gerak. Gerak setiap planet pada porosnya, hingga keteraturan tiap planet bergerak mengelilingi orbitnya masing-masing. Masih ingat, 'kan, mengapa gasinng tetap tegak berdiri selama berputar?
Gerak mempertahankan keseimbangan, berlaku jadi "jagad gede" - sebutan alam semesta itu - hingga "jagad cilik" : yang kita bisa amati dari tubuh sendiri. Saya penggila Pilates, selain dancing. Cuma yang terakhir disebut itu agak "sulit" diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena selain terlalu banyak tukang kritik di rumah, juga sulit menemukan tempat "pelepasannya" yang tanpa asap rokok dan basa-basi.
Saya ingat betul ketika masalah low back pain itu menjadi teman menyebalkan sebelum mengenal Pilates. Ternyata sambil diamat-amati, saya memang mempunyai kecenderungan lordosis -bentuk susunan tulang belakang yang bila diperhatikan dari samping, tampak area pinggang yang melesak ke arah depat perut. Sehingga bokong tampak "berbentuk" bukan karena keindahan otot bokong yang sebenarnya, melainkan lebih akibat lekuk ruang tulang pinggang yang tidak sehat. Ternyata (lagi), setelah dikoreksi dengan berbagai latihan yang butuh konsentrasi dan "berpikir", saya sadar ruas tulang belakang khususnya pinggang menjadi tegang dan cenderung pegal terus karena,...otot perut depan yang lemah!
Habislah saya dihajar trainer yang tak kenal belas kasihan itu. Namun, saya amat bersyukur mempelajari ilmu baru yang tidak ada di kuliah kedokteran tentang "balanced body". Tidak benar sama sekali, perempuan di atas 40 tahun berhak atas perut yang bergelambir dan cenderung buncit tanpa kehamilan di dalamnya, apalagi disertai keluhan sakit pinggang. Sit up pun tidak menyelesaikan masalah. Mengencangkan otot perut saja tanpa menyadari bagaimana posisi setiap ruas tulang belakang bisa menimbulkan masalah baru. Memang semua aspek dalam hidup juga seperti itu, bukan? Tidak ada janji muluk tentang tongkat ajaib untuk hidup sehat.
Ingin tulang kuat? Siapa bilang susu jalan keluarnya? Yang ditulis dalam iklan susu saja tidak pernah menjanjikan telak seperti itu. Jadi, mereka pun tidak bisa dituntut bila tulang Anda tetap keropos walaupun minum susu satu truk kontainer, jika tidak disertai latihan fisik yang teratur. Tapi, bukan begitu cara berpikir "orang kita", bukan? Fiksasi (keterpakuan) cara pikir memang hambatan terbesar dalam perjalanan ziarah manusia menuju sehat.
Barangkali ini korban pendidikan zaman kolonial, yang tidak pernah diperbaharui dan sekaligus dimanfaatkan pula oleh orang yang memang punya kepentingan. Kuatnya tulang selalu identik dengan susu (padahal bagaimana pakan sapinya dan dengan cara apa susu diolah hingga merusak gizinya - sudah membuat kehebatan kalsium susu tinggal sejarah). Kita melupakan kuatnya tulang juga jasanya sayur berdaun hijau, apalagi gerak tubuh. Abis, enggak enak, sih.
Fiksasi pun melahirkan orang-orang bersifat kepala batu. Ha-ha, ini isu menarik juga. Tidak heran orang "kepala batu" masih berpikir kepalanya terdiri dari susunan keping tulang yang sudah lekat erat tak dapat bergerak. Sadarkah Anda, bahwa tengkorak yang terdiri dari berbagai lempeng tulang pipih saling bersambung itu ternyata masih bisa bergerak dan bergeser? Bukan akibat kecelakaan gegar otak!
Pada awal 1990 sebenarnya Dr.William G.Sutherland sudah berteori bahwa impuls pernafasan secara primer berada di sistem kranial-sakral (susunan tulang dari tengkorak hingga tulangn ekor). Lempeng-lempeng tulang tengkorak pun bergerak secara ritmis sebagai akibat perputaran aliran cerebro spinal fluid (cairan otak yang mengalir dari rongga otak hingga rongga sumsum tulang belakang). Betapa indahnya. Baru sekitar tahun 1975, Dr. John Upledger, seorang dokter ahli bedah osteopath, memberikan dasar-dasar ilmiahnya. Menyusul Frank Mahoney, seorang kinesiolog, yang menemukan hubungan kuat antara menurunnya cairan otak, gangguan belajar, dan koordinasi gerak tubuh.
Ingin sehat, bugar dan umur panjang? Bergeraklah. Pakailah semua modalitas tubuh. Sejak kita diciptakan dari pertemuan sperma dan telur, kita tidak pernah berhenti bergerak. Membelah diri, bergulir sepanjang saluran telur, bahkan berjungkir balik dalam cairan ketuban. Bayi lahir pun bergerak, menunaikan refleks-refleks primitifnya, keluar dari liang persalinan, melakukan rayapan pertama menuju puting susu ibu. Rangkaian gerak menegakkan kepala, berguling, mengangkat tubuh, duduk, merangkak, hingga berdiri dan berjalan tidak boleh berhenti pada usia dewasa!
Semua yang kita miliki dalam tubuh ini tidak ada yang statis tanpa gerak. Dari aliran darah, aliran getah bening, hormon, enzim, cairan otak, impuls saraf, semuanya! Sedemikian luar biasanya hingga Tuhan khusus menciptakan "batu" vestibuler - yang mengatur keseimbangan dalam rongga telinga dalam, hingga kita tidak pusing, terhindar dari serangan vertigo dan kondisi "nggliyeng".
Bergerak secara spiritual juga mengandaikan adanya keluasan, kelegaan, kelapangan. Bukan keterkungkungan atau keciutan dan kesempitan. Dan sesungguhnya, tubuh adalah perpanjangan dari semua aspek yang tidak terlihat dari diri manusia: The Mind and the spirit.
| DR. Tan Shot Yen, adalah seorang medical doctor, praktisi enargy healing, certified medical hypnotherapist, dan penulis buku Saya Pilih Sehat dan Sembuh, Dari Mekanisasi Sampai Medikalisasi, dan Resep Panjanng Umur, Sehat, dan Sembuh. |
Tulisan Dr. Tan Lainnya:
Hipnoterapi : “Katanya” dan “Faktanya”….(Bagian Kedua)
Ilmu Itu Tak Pernah Berhenti,...(Bagian Pertama)
Ilmu Itu Tak Pernah Berhenti...(Bagian Kedua)






